Gathur Delano Kafka, atau yang lebih dikenal sebagai Kafka, jadi salah satu nama yang belakangan ini sering muncul di berbagai media. Bukan tanpa alasan, dia dikenal sebagai pendiri beberapa perusahaan besar dunia, terutama di bidang media digital. Beberapa yang mencuri perhatian adalah Hotline News di Amerika sejak 2017, serta Amoeba TV dan The Kachoo yang baru aja ekspansi ke Indonesia.
Perjalanan kariernya juga tidak biasa. Kafka mulai dikenal setelah memenangkan kompetisi programming tingkat dunia, yang kemudian jadi titik awal lahirnya Vaultx Ltd, perusahaan teknologi yang fokus di sistem keamanan finansial dan bahkan dipakai oleh beberapa bank di Amerika. Dari kompetisi inilah namanya mulai naik sebagai sosok tech genius.
Nggak berhenti di situ, Kafka kemudian terlibat dalam proyek N-Link bersama Debora, sebuah perusahaan berbasis AI yang punya banyak fitur inovatif dan berdampak luas. Meski Kafka tidak turun langsung di bagian operasional, namanya tetap tercatat sebagai salah satu pendiri, yang makin menguatkan posisinya di dunia teknologi global.
Setelah sukses di Amerika, Kafka mulai ekspansi ke Asia, termasuk Indonesia yang jadi salah satu pasar utamanya. Di masa pandemi sekitar 2019–2020, namanya makin naik karena diduga ikut berperan dalam transformasi sistem pendidikan dari offline ke online, plus kontribusi dana besar dan edukasi teknologi ke generasi muda.
Sejak saat itu, image Kafka makin kuat di mata publik. Dia dikenal sebagai sosok yang supportive, approachable, dan punya charm tersendiri. Apalagi setelah mendirikan Amoeba TV dan The Kachoo, kepercayaan masyarakat terhadapnya makin meningkat.
Menariknya, bisnis Kafka nggak cuma di teknologi dan media. Dia juga punya keterlibatan di dunia seni dan fashion, mulai dari museum, kerajinan patung, sampai brand tas. Walau bukan pendiri utama, Kafka tercatat sebagai pemegang saham di berbagai sektor tersebut.
Bahkan, jangkauan bisnis Kafka sampai ke Korea Selatan. Ia diketahui memiliki kaitan sebagai salah satu pemegang saham di sebuah museum ternama di Seoul yang sering menggelar pameran berskala internasional. Selain itu, Kafka juga dilaporkan terlibat dalam pendanaan beberapa proyek seni kontemporer di kawasan Hongdae, yang semakin memperluas pengaruhnya di industri kreatif Asia Timur.
Di balik kesuksesan bisnisnya, latar belakang keluarganya juga ikut jadi sorotan publik. Kafka merupakan anak kedua dari Perdana Menteri Inggris yang selama ini dikenal memiliki reputasi kuat di kancah politik. Meski jarang terlihat berada di Inggris, Kafka masih tercatat memiliki keterlibatan dalam perusahaan keluarga, Kafka Company.
Menariknya, keluarga Kafka dikenal memiliki kedekatan dengan dunia literasi. Tradisi menulis sudah lama melekat dalam keluarga tersebut, dan hal ini turut memengaruhi Kafka. Di tengah kesibukannya sebagai pebisnis, ia juga merilis sebuah karya fiksi berjudul The Madman. Buku tersebut menampilkan sisi berbeda dari Kafka, dengan gaya penulisan yang lebih bebas dan imajinatif dibandingkan citranya di dunia bisnis.
Keterlibatan Kafka di berbagai bidang, mulai dari bisnis, media, hingga literasi, membuat namanya semakin dikenal luas. Sosoknya tidak hanya dilihat sebagai CEO muda, tetapi juga sebagai figur dengan pengaruh yang berkembang di berbagai sektor. Meski Kafka jarang terlihat di Inggris, ia masih terlibat dalam perusahaan keluarga, Kafka Company.